Kamis, 22 April 2010

PHBS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Sehat adalah karunia Tuhan yang perlu disyukuri, karena sehat merupakan hak asasi manusia yang harus dihargai. Sehat juga investasi untuk meningkatkan produktivitas kerja guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Orang bijak mengatakan bahwa “Sehat memang bukan segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti”. Karena itu kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak.
Untuk menjaga kesehatan maka individu harus memiliki pedoman prilaku hidup sehat pemerintah sangat menginginkan terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang makin meningkat yang salah syaratnya yaitu kesehatan dari individu yang berkualitas. Prillaku yang sehat ini pada zaman sekarang belum bisa dicapai oleh semua orang yang diakibatkan oleh beberapa factor.
Prilaku sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat. Berperilaku hidup bersih dan sehat dapat terwujud apabila ada keinginan, kemauan dan kemampuan para pengambil keputusan dan lintas sektor terkait agar PHBS menjadi program prioritas dan menjadi salah satu agenda pembangunan di Kabupaten/Kota, serta didukung oleh masyarakat.
Agar program PHBS dapat berjalan sesuai dengan tujuan dari terbentuknya maka program yang ada di dalam PHBS dan proses berjalannya program itu dapat diketahui lebih jelas maka penulis tertarik untuk membahas Pola Hidup Bersih dan Sehat lebih dalam sehingga sebagai calon petugas kesehatan nantinya dapat memiliki bekal pengetahuan tentang PHBS yang bila berada di masyarakat, informasi tentang PHBS dapat tertransfer dengan tepat ke masyarakat.
Tersampaikannya program PHBS secara tepat sasaran akan menimbulkan situasi yang sangat mendukung masyarakat untuk berprilaku hidup sehat sehingga mendukung tercapainya visi Indonesia Sehat 2010


1.2 RUMUSAN MASALAH
Melihat dari latar belakang tersebut, masalah yang dapat penulis rumuskan antara lain:
1. Apa Pengertian dari PHBS ?
2. Apa saja Tujuan dari PHBS ?
3. Siapa saja Sasaran dari PHBS ?
4. Strategi bagaimana yang digunakan dalam kegiatan PHBS?
5. Bagaimana Manajemen PHBS itu ?
6. Bagaimana program penatalaksanaan PHBS di lima tatanan itu?
7. Apa alasan dibentuknya PHBS?

1.3 TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam rangka penyusunan makalah ini antara lain :
1. Dapat memahami pengertian dari PHBS.
2. Dapat mengetahui tujuan dari PHBS.
3. Mengetahui siapa saja sasaran dari PHBS.
4. Dapat mengerti Strategi yang digunakan dalam kegiatan PHBS
5. Dapat mengetahui manajemen dari PHBS.
6. Mengetahui program penatalaksanaan PHBS di lima tatanan masyarakat.
7. Dapat mengetahui alasan dibentuknya PHBS.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku guna membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri sehingga masyarakat sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Sosial Suport) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment).
2.2 TUJUAN
PHBS/Promosi Higiene merupakan pendekatan terencana untuk mencegah penyakit menular yang lain melalui pengadopsian perubahan perilaku oleh masyarakat luas. Dan dapat melakukan perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS
2.3 SASARAN
2.3.1 Tatanan Rumah Tangga
Sasaran PHBS di rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga secara keseluruhan dan terbagi dalam :
a. Sasaran primer
Adalah sasaran utama dalam rumah tangga yang akan dirubah perilakunya atau anggota keluarga yang bermasalah (individu dalam keluarga yang bermasalah)



b. Sasaran sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam keluarga yang bermasalah misalnya, kepala keluarga, ibu, orang tua, tokoh keluarga, kader tokoh agama, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan lintas sektor terkait, PKK

c. Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS misalnya, kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, guru, tokoh masyarakat dll.

2.3.2 Tatanan Institusi Pendidikan/ sekolah
Sasaran PHBS di tatanan institusi pendidikan adalah seluruh anggota
keluarga institusi pendidikan dan terbagi dalam :
a. Sasaran primer
Adalah sasaran utama dalam institusi pendidikan yang akan dirubah perilakunya atau siswa dan guru yang bermasalah (individu/kelompok dalam institusi pendidikan yang bermasalah).
b. Sasaran sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam institusi pendidikan yang bermasalah misalnya, kepala sekolah, guru, orang tua siswa, kader kesehatan sekolah, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan lintas sektor terkait, PKK
c. Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS di institusi pendidikan misalnya, kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, Diknas, guru, tokoh masyarakat dan orang tua siswa

2.3.3 Tatanan di Tempat umum
a. Sasaran primer
Adalah sasaran utama di tempat umum yang akan dirubah
perilakunya yaitu pengurus maupun pengunjung yang bermasalah dalam berprilaku hidup bersih dan sehat
b. Sasaran sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu/ kelompok di tempat umum yang bermasalah yaitu prilaku masyarakat di sekitar tempat umum
c. Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS di tempat umum misalnya, kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, Dinas kebersihan, guru, tokoh masyarakat.

2.3.4 Tatanan di Tempat Kerja
a. Sasaran primer
Adalah sasaran utama dalam lingkungan tempat kerja yang akan dirubah perilakunya yaitu seluruh aspek yang ada dalam suatu perusahaan (karyawan dan pemilik perusahaan) yang bermasalah.
b. Sasaran sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu yang bermasalah dalam lingkungan tempat kerja yaitu pemilik perusahaan, mitra kerja
c. Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS dalam lingkungan perusahaan, yaitu kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas, tokoh masyarakat

2.3.5 Tatanan di Sarana Institusi Kesehatan
a. Sasaran primer
Adalah sasaran utama dalam institusi kesehatan yang akan dirubah perilakunya atau bermasalah (individu/kelompok) yaitu pengunjung, pengguna fasilitas, dan paramedis dalam institusi kesehatan.
b. Sasaran sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam institusi kesehatan yang bermasalah misalnya, kelapa ruangan, dokter, dan kepala rumah sakit.
c. Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS di institusi kesehatan misalnya, Dinas kesehatan

Sasaran PHBS bila dilihat dari segi lingkungan tidak hanya terbatas tentang hygiene, namun harus lebih komprehensif dan luas, mencakup perubahan lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan sosial-budaya masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang berwawasan kesehatan dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan fisik seperti sanitasi dan hygiene perorangan, keluarga dan masyarakat, tersedianya air bersih, lingkungan perumahan, fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK) dan pembuangan sampah serta limbah. Lingkungan biologi adalah flora dan fauna. Lingkungan sosial-budaya seperti pengetahuan, sikap perilaku dan budaya setempat yang berhubungan dengan PHBS.
Perubahan terhadap lingkungan memerlukan intervensi dari tenaga kesehatan terutama Tenaga Kesehatan Masyarakat yang mempunyai kompetensi sehingga terciptanya lingkungan yang kondusif dalam Program Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan menuju masyarakat sejahtera.
2.4. STRATEGI KEGIATAN PHBS
Menyadari bahwa perilaku adalah sesuatu yang rumit. Perilaku tidak hanya menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma, melainkan juga dimensi ekonomi, yaitu hal-hal yang mendukung perilaku, maka promosi kesehatan dan PHBS diharapkan dapat melaksanakan strategi yang bersifat paripurna (komprehensif), khususnya dalam menciptakan perilaku baru.
Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan dan PHBS yaitu :
2.4.1 Gerakan Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga, serta kelompok masyarakat. Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organisation) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya. Hal-hal yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan sebagaibantuan,hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

2.4.2. Binasuasana
Binasuasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimana pun ia berada (keluarga di rumah, orangorang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan lain-lain, dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat,khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina Suasana, yaitu :
a. Pendekatan Individu
b. Pendekatan Kelompok
c. Pendekatan Masyarakat Umum

2.4.3 Advokasi
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa berupa tokoh masyarakat formal yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan lain-lain yang umumnya dapat berperan sebagai penentu ”kebijakan” (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non pemerintah.
Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan, yaitu
a. mengetahui atau menyadari adanya masalah.
b. tertarik untuk ikut mengatasi masalah.
c. peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternative pemecahan masalah.
d. sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah.
e. memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat, dan tepat. Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang, yaitu :
a. Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi
b. Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
c. Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
d. Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
e. Dikemas secara menarik dan jelas
f. Sesuai dengan waktu yang tersedia.

2.5 MANAJEMEN PHBS
Kerangka konsep Manajemen PHBS
1. Pengkajian
2. Perencanaan
3.Penggerakan dan Pelaksanaan
4. Pemantauan dan Penilaian

Pengkajian dilakukan terhadap masalah kesehatan, masalah perilaku (PHBS) dan sumber daya. Luaran pengkajian adalah pemetaan masalah PHBS yang dilanjutkan dengan rumusan masalah. Dalam proses pengkajian ini juga harus dilewati tahap persiapan sebelum dilanjutkan ke tahap perencanaan, hal ini untuk dapat mengetahui lebih dalam tentang sumber daya yang ada sehingga perencanaan yang di buat sesuai.
Tahap persiapan
No. KEGIATAN TUJUAN LUARAN
1. Sosialisasi dan Advokasi Agar LS/LP/LSM/Mitra mengetahui program PHBS - Dukungan Dana/Kebijakan Politis/Kemitraan
- Sepakat melaksanakan PHBS
- Peran & fungsi masing-masing jelas
2. Persiapan sarana Identifikasi Kebutuhan sarana - Daftar jenis & jumlah sarana yang dibutuhkan
- Kuisioner
3. Persiapan Administrasi Identifikasi lapangan - Daftar surat yang diperlukan
- Format pencatatan & pelaporan
4 Persiapan Pelaksanaan Identifikasi : siapa yang melakukan apa - Daftar penanggungjawaban masing-masing kegiatan.

Perencanaan berbasis data akan menghasilkan rumusan tujuan, rumusan intervensi dan jadwal kegiatan :
Perencanaan
No. Kegiatan Tujuan Luaran
1 Rumusan Tujuan Untuk membuat target yang ingin dicapai Adanya target yang bisa diukur
2 Rumusan Rencana Kegiatan Intervensi Untuk mengembangkan berbagai alternative intervensi Adanya rencana kegiatan intervensi yang menyeluruh, meliputi penyuluhan masalah/ terpadu / rancangan medis
3 Pembuatan Jadwal kegiatan Untuk menetapkan waktu bagi setiap kegiatan Adanya jadwal kegiatan intervensi.

Penggerakan pelaksanaan, merupakan inplementasi dari intervensi masalah terpilih, yang penggerakannya dilakukan oleh petugas promosi kesehatan, sedangkan pelaksanaannya bisa oleh petugas promosi kesehatan atau lintas program dan lintas sektor terkait.
Pergerakan & Pelaksanaan
No. Kegiatan Tujuan Luaran
1 Advokasi 1. Untuk mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang mendukung pemerdayaan PHBS
2. Mempengaruhi pihak lain agar mendukung PBHS.
3. Meningkatkan kerjasama masyarakat dan pemerintah.
4. Menggalang dukungan lewat pendapat umum melalui media massa. 1. Adanya dukungan politik dari pengambil keputusan dalam bentuk SK atau keputusan unutk melaksanakan PHBS.
2. Adanya keperdulian LSM terhadap PHBS.
3. Adanya anggaran rutin yang dinamis dari APBD dan sumber lain untuk pelaksanaan PHBS.
2 Bina Suasana 1. Untuk menciptakan berbagai opini yang ada di masyarakat yang mendukung tercapainya PHBS di semua tatanan.
Terciptanya opini, etika norma dan kondisi masyarakat yang ber-PHBS.
3 Pemerdayaan/
Gerakan Masyarakat 1. Untuk menumbuh kembangkan potensi masyarakat untuk mendukung dan memberdayakan PHBS. 1. Meningkatkan UKBM
2. Meningkatkan peserta dana sehat JPKM


Pemantauan dilakukan secara berkala dengan menggunakan format pertemuan bulanan, sedangkan penilaian dilakukan pada enam bulan pertama atau akhir tahun berjalan. Dalam setiap tahapan Manajemen tersebut petugas promosi kesehatan tidak mungkin bisa bekerja sendiri tetapi harus melibatkan petugas lintas program dan lintas sektor terkait terutama masyarakat itu sendiri.

2.6 BENTUK- BENTUK KEGIATAN PHBS
Kegiatan PHBS secara mandiri dapat dilakukan oleh semua masyarakat secara mandiri baik oleh individu maupun kelompok. Kegiatan PHBS yang dapat dilakukan oleh masyarakat dapat dilakukan di beberapa bidang, yaitu :
Di bidang kebersihan perorangan,beberapa prilaku bersih dan sehat yaitu :
a. Seperti cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun,
b. Mandi minimal 2x/hari
c. Gosok gigi minimal 2 x sehari

Di bidang Gizi dan Farmasi, beberapa perilaku bersih dan sehat yaitu :
a. Makan dengan gizi seimbang
b. Memberi bayi ASI eksklusif
c. Mengkonsumsi garam beryodium
d. Makan buah dan sayur tiap hari
e. Menimbang berat badan(BB) dan tinggi badan (TB) setiap bulan
Di bidang Kesling, beberapa perilaku bersih dan sehat yaitu:
a. Seperti membuang sampah pada tempatnya,
b. Menggunakan jamban,
c. Memberantas jentik
d. Rumah memiliki ventilasi
e. Menggunakan air bersih
f. Memiliki jamban yang telah memenuhi syarat kesehatan
Di Bidang KIA & KB, beberapa perilaku bersih dan sehat yaitu :
a. Memeriksakan kehamilan secara rutin
b. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
c. Mengimunisasi Balita dengan lengkap
Di Bidang Pemeliharaan Kesehatan, beberapa contohnya adalah:
a. Memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan
b. Memiliki buku KIA untuk ibu hamil
c. Mendaftar sebagai pengguna pelayan kesehatan di suatu rumah sakit
d. Memanfaatkan Puskesmas/Sarana Kesehatan lain


2.7 PROGRAM PELAKSANAAN PHBS DI LIMA TATANAN MASYARAKAT
Menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada setiap orang bukanlah hal yang mudah, akan tetapi memerlukan proses yang panjang. Setiap orang hidup dalam tatanannya dan saling mempengaruhi serta berinteraksi antar pribadi dalam tatanan tersebut. Memantau, menilai, dan mengukur tingkat kemajuan tatanan adalah lebih mudah dibandingkan dengan perorangan. Oleh karena itu, pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui pendekatan tatanan 5 tatanan masyarakat, yaitu tatanan rumah tangga, sekolah, tempat-tempat umum, tempat kerja, dan institusi kesehatan. Program yang dilaksanakan di kelima tatnan tersebut berlainan, berdasarkan keperluan dan keadaan yang dihadapi.
Program-program tersebut antara lain:
1. PHBS di Rumah Tangga
Merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan hidup bersih dan sehat, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
Syarat rumah tangga sehat yaitu :
- Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan).
- Memberi bayi ASI eksklusif
- Menimbang bayi dan balita setiap bulan
- Menggunakan air bersih
- Mencuci tangan dgn air bersih, mengalir, dan sabun
- Menggunakan jamban
- Memberantas jentik di rumah
- Makan sayur dan buah setiap hari
- Melakukan aktivitas fisik setiap hari
- Tidak merokok di dalam rumah

2. PHBS di sekolah
Seiring munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (6-10 tahun), yang ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. PHBS di sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Penerapan PHBS ini dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah. Manfaat PHBS di sekolah di antaranya :
a. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit.
b. Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang berdampak pada prestasi belajar peserta didik
c. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua (masyarakat)
d. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan
e. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain.
Syarat-syarat sekolah ber-PHBS yaitu :
a. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
b. Jajan di kantin sekolah yang sehat
c. Membuang sampah pada tempatnya
d. Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah
e. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
f. Tidak merokok di sekolah
g. Memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin.
h. Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah


3. PHBS di tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum merupakan sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan masyarakat, seperti sarana pariwisata, transportasi umum, sarana ibadah, sarana olahraga, sarana, perdagangan, dsb. Disini kita berupaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat-tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat-tempat umum yang ber-PHBS. Melalui penerapan PHBS di tempat umum ini, diharapkan masyarakat yang berada di tempat-tempat umum akan terjaga kesehatannya dan tidak tertular atau menularkan penyakit.
Syarat tempat umum yang ber-PHBS yaitu :
a. Menggunakan air bersih
b. Menggunakan jamban
c. Membuang sampah pada tempatnya
d. Tidak merokok
e. Tidak meludah sembarangan
f. Memberantas jentik nyamuk
g. Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih
h. Menutup makanan dan minuman

4. PHBS di tempat kerja
Merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat. Penerapan PHBS di tempat kerja diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan produktif. Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar tempat kerja menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah, dan sehat.
Syarat tempat umum yang sehat yaitu :
a. Mengkonsumsi makanan bergizi
b. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
c. Tidak merokok di tempat kerja
d. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
e. Menggunakan air bersih
f. Memberantas jentik di tempat kerja
g. Menggunakan jamban
h. Membuang sampah pada tempatnya

5. PHBS di institusi kesehatan
Institusi kesehatan adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik swasta. Sehingga dapat memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung, dan petugas agar tahu, mampu, dan mampu mempraktikkan hidup perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan intitusi kesehatan ber-PHBS.
PHBS di Institusi Kesehatan sangat diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit, infeksi nosokomial dan mewujudkan Institusi Kesehatan yang sehat.
Syarat institusi sehat yaitu :
- Menggunakan air bersih
- Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
- Menggunakan jamban
- Membuang sampah pada tempatnya
- Tidak merokok di Institusi Kesehatan
- Tidak meludah sembarangan
- Memberantas jentik nyamuk.



2.8 ALASAN TERBENTUKNYA PHBS
PHBS dirancang berisi pedoman pola hidup bersih dan sehat untuk dapat menjadi pedoman masyarakat agar dapat hidup sehat serta untuk mengukur apakah kita sudah termasuk hidup sehat atau tidak. Karena melihat prilaku masyarakat makin jauh dari pola hidup sehat. Dengan dibentuknya PHBS ini diharapkan dapat memberikan masyarakat pengetahuan lebih banyak tentang prilaku sehat dan manfaatnya di kehidupan sehari-hari.
Kebijakan Indonesia Sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan bermutu adil dan merata. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia Sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 131/Menkes /SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah subsistem Pemberdayaan Masyarakat. Kebijakan Nasional Promosi kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditet asional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 1193/MENKES /SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010)
















BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah:
Prilaku Hidup Bersih Sehat adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar kepada perorangan, keluarga, kelompok masyarakat sehingga timbul kemauan, kesadaran, dan kemampuan untuk mempraktikkan PHBS. Tujuan PHBS adalah untuk mencegah penyakit menular yang lain melalui pengadopsian perubahan perilaku oleh masyarakat luas. Sasaran PHBS yaitu tatanan rumah tangga, tatanan institusi pendidikan, tatanan tempat umum, tatanan tempat kerja, dan tatanan institusi kesehatan. Strategi kegiatan PHBS adalah gerakan pemberdayaan, binasuasana, dan advokasi. Manajemen PHBS ada 4 langkah yaitu pengkajian, perencanaan, penggerakan dan pelaksanaan, pemantauan dan penilaian. Bentuk-bentuk kegiatan PHBS adalah kegiatan di bidang kebersihan perorangan, bidang Gizi dan Farmasi, bidang Kesling, bidang KIA & KB, dan bidang Pemeliharaan Kesehatan. Program pelaksanaan PHBS di lima tatanan adalah PHBS di Rumah Tangga, PHBS di sekolah, PHBS di tempat-tempat umum, PHBS di tempat kerja, dan PHBS di institusi kesehatan. Alasan terbentuknya PHBS adalah sebagai pedoman bagi mayarakat untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.



3.2 SARAN-SARAN
a. Kepada individu serta masyarakat agar lebih meningkatkan kemauan, kesadaran, dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga PHBS dapat ditingkatkan.
b. Kepada pemerintah agar lebih memberikan perhatian kepada masyarakat mengenai kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan kebersihan dan kesehatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar